Selasa, 20 April 2021

Mengatasi Perubahan Iklim Dengan Menjaga Hutan

Mengatasi Perubahan Iklim Dengan Menjaga Hutan


Pada 14 April 2021, aku sebagai anggota Eco Blogger Squad menghadiri acara Earth Day Gathering. Berasarkan ilmu-ilmu yang sudah aku dapatkan di acara tersebut, aku akan berbagi kepada kalian dengan membuat artikel ini. Artikel ini juga diperuntukkan untuk memperingati Hari Bumi pada tanggal 22 April 2021 nanti. Aku cukup resah dengan suasana Bumi yang terasa kurang nyaman daripada zaman dahulu ketika aku masih kecil. Semakin hari aku merasa hawa panas semakin meningkat saja. Perubahan suhu yang berlangsung beberapa waktu terakhir dapat menunjukkan iklim yang telah berubah.


Apa itu perubahan iklim?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita wajib mengerti apa yang dimaksud dengan “iklim” dan perbedaannya dengan “cuaca”. Selain itu, penting juga untuk mengetahui bahwa kumpulan lapisan dari seluruh gas yang menyelimuti Bumi disebut atmosfer. Perbedaan antara iklim dan cuaca adalah pada rentang periodenya. Cuaca adalah kondisi sehari-hari yang terjadi di atmosfer, sedangkan iklim adalah kondisi atmosfer dalam rentang waktu yang relatif lama, seperti beberapa dekade atau abad. Secara singkat, perubahan iklim merupakan perubahan pola cuaca jangka panjang.


Apa sih penyebab terjadinya perubahan iklim?

Karbon dioksida atau yang biasa kita kenal dengan CO2 merupakan salah satu jenis gas yang penting di atmosfer. Aktivitas manusia seperti defortasi (kegiatan penebangan hutan), transportasi, dan manufaktur dapat menyebabkan terjadinya pelepasan CO2 ke atmoster. Karbon dioksida bisa meningkatkan efek gas rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global karena meningkatnya suhu Bumi.


Perlu kita ketahui bahwa CO2 memberikan pengaruh besar terhadap pemanasan global dibandingkan gas lainnya. Perubahan tingkat kandungan CO2 di atmosfer bisa memicu perubahan cuaca yang tak terduga sehingga terjadi perubahan iklim. Oleh karena itu, perubahan iklim dapat mempengaruhi sistem Bumi.


Banyak ilmuwan yang menyebutkan bahwa yang terjadi hingga saat ini itu kondisi yang memasuki krisis iklim. Dimana kondisi Bumi ini sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia, baik perilaku individu, ekonomi, sosial, maupun model produksi dan konsumsi.


Tangkapan layar saat acara


Pada tahun 2017, pemanasan global akibat ulah manusia telah mencapai 1°C dan akan terus meningkat sekitar 2°C setiap 10 tahun. Menurut ilmuwan dari berbagai negara, ambang batas suhu Bumi yang tidak boleh dilewatin yaitu 1,5°C.


Apa dampak yang makhluk hidup rasakan jika suhu mencapai 1,5°C ?

Makhluk hidup memiliki peluang yang kecil untuk melakukan adaptasi dan akan terjadi pemusnahan ekosistem penting yang tidak bisa dihindari. Dampaknya akan semakin buruk pada negara tropis dan Negara sub tropis di belahan Bumi selatan.


Ekosistem laut juga  tidak dapat lagi dipulihkan jika telah mencapai titik kritisnya. Naiknya suhu laut akan menghilangkan 70-90 persen terumbu karang. Keselamatan berbagai kehidupan di dalam laut dan penduduk yang tinggal di pesisir juga akan terancam.


Pada suhu 1,5°C, keberlangsungan pangan manusia juga akan terancam karena terjadinya kegagalan panen. Kelangkaan air juga akan semakin sering terjadi dan penyakit-penyakit seperti malaria dan demam berdarah akan mudah menyebar terutama di daerah perkotaan.


Tangkapan layar saat acara


Bencana hidrometereologi merupakan bencana yang diakibatkan oleh cuaca. Dari gambar di atas, 6 dari 10 bencana tersebut adalah bencana hidrometereologi akibat perubahan iklim. Berbicara tentang bencana, secara tidak langsung kita berbicara tentang kerusakan banyak hal dalam skala besar yang tidak kita inginkan.


Perubahan iklim dapat menyebabkan es di kutub berkurang. Ketika esnya mencair dengan skala besar, kita tidak pernah tahu jika disana terdapat virus-virus yang tidak diketahui lalu menyebar. Ya maksudnya, kita jaga-jaga aja dan berusaha untuk melakukan upaya semaksimal mungkin agar mengurangi peluang terjadinya perubahan iklim.


Bagaimana upaya kita untuk mengatasi perubahan iklim yang dapat membahayakan kehidupan ini?


Tanah yang berada di bawah lahan hutan menyimpan banyak sekali karbon. Seluruh tanah yang ada di Bumi saat ini diperkirakan menyimpan lebih dari satu triliun ton karbon. Dibandingkan dengan jumlah karbon yang ada di atmosfer, tanah memiliki jumlah karbon dua kali lebih banyak.


Hutan akan menyerap dan menyimpan karbon dioksida yang berasal dari atmosfer. Begitu juga sebaliknya, ketika terjadi kegiatan penggundulan hutan, gas karbon dioksida akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Bayangkan saja begitu banyaknya karbon yang disimpan akan terlepas dan menyebabkan perubahan yang besar pada cuaca dan sistem iklim. Oleh karena itu, menjaga hutan tetap lestari dapat memperlambat efek perubahan iklim.


Komitmen kepada dunia internasional melalui Paris Agreement 2015 untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 atau 41% dengan dukungan internasional (Nationally Determined Contribution/NDC). Dari 29% itu, sektor yang paling besar kontribusinya dari kehutanan 17,2%.


Salah satu jenis makhluk hidup yang ada di hutan yaitu pohon. Seperti yang kita ketahui bahwa pohon dapat menghasilkan oksigen. Secara tidak langsuung hutan turut berperan membantu manusia untuk bernapas sampai sekarang. Hutan juga memantulkan sinar matahari kembali keluar, meningkatkan kelembaban atmosfer, menjaga tutupan awan. Hutan merupakan sumber pangan dan sumber energi yang akan menjaga ekonomi masyarakat. Dengan adanya hutan, kelangkaan air tidak akan terjadi. Air juga bisa menjadi sumber energi yang bisa dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik tanpa menimbulkan efek rumah kaca.


Sektor pertanian

Dalam memenuhi kebutuhan pangan, manusia tidak boleh bergantung pada petani berskala besar yang membutuhkan lahan yang sangat luas dimana bisa menyebabkan terjadinya penggundulan hutan. Untuk mengatasi perubahan iklim karna sektor pertanian dibutuhkan transformasi total sistem pangan agro-industri seperti produksi, distribusi, dan konsumsi dalam skala kecil. Misalnya, penduduk wilayah A bergantung terhadap hasil panen petani di wilayah A. Sistem pertanian juga harus Green Agriculture atau sistem pertanian berkelanjutan.


Sektor Peternakan

Di Bumi ini, 30% permukaan tanah dimanfaatkan oleh sektor peternakan. Hal tersebut telah menyebabkan polusi air dan kerusakan tanah. Menurut laporan PBB, sektor peternakan merupakan penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengurangi kebutuhan pangan dalam mengonsumsi daging.


Produk Hasil Hutan

Dengan menggunakan produk dari hasil hutan non-kayu adalah salah satu cara menjaga hutan. Kalaupun kalian ingin menggunakan produk yang berasal dari kayu, maka gunakanlah produk yang memiliki eco-labeling seperti Indonesian Legal Wood. Produk yang memiliki label Indonesian Legal Wood itu berasal dari hutan yang dikelola dengan bijak.


Tanam Pohon

Jika kalian ingin berkontribusi dalam melestarikan hutan, kalian bisa ikut dalam program tanam pohon. Dalam sehari, atu pohon dapat menghasilkan 1,2 kg Oksigen, sedangkan satu manusia membutuhkan 0,5 kg. Jadi, satu pohon yang kalian tanam akan membantu dua manusia untuk bernapas dalam sehari. Untuk mengikuti program ini, kalian dapat berdonasi di ASRIYayasan WFF Indonesia, atau LindungiHutan.


Asuh Pohon

Jika program tadi berbicara tentang menanam pohon dari kecil, maka program asuh pohon tentang merawat pohon yang sudah ada. Mengasuh pohon merupakan salah satu cara menghargai kehidupan seluruh makhluk hidup di Bumi khususnya para penghuni hutan dan penduduk sekitar hutan yang secara bijak melestarikan pohon-pohon di sekitar mereka. Dengan mengasuh pohon di hutan, kita telah meminimalisir potensi hilangnya pohon. Caranya berkontribusi dalam program ini yaitu dengan mendonasikan sejumlah uang dimana dananya digunakan untuk memelihara dan melindungi pohon agar tetap lestari. Kalian bisa membuka situs www.pohonasuh.org untuk menjadi bagian dari pengasuh hutan.



Sebetulnya merayakan Hari Bumi bukan tentang menyelamatkan Bumi, yang tidak baik-baik aja itu kita bukan Bumi. Kalau kalian peduli dengan keluarga kalian, ya jaga lingkungan. Bumi sebenarnya baik-baik saja, kalau ga ada kita mungkin Bumi happy kali.


 - Gita Syahrani -


Kunjungilah hutan selagi bisa, nikmatilah suasananya selagi sadar, dan jagalah hutan selagi ada. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua, sampai jumpa dipostingan selanjutnya. 


Referensi:

https://archive.recoftc.org/recoftc/download/22514/1794

https://dlh.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pemanasan-global-global-warming-76

Instagram @pemkab_boyolali

- Materi yang diajarkan oleh narasumber


Narasumber:

1. Yuyun Harmono

Manajer Kampanye Keadilan Iklim WALHI

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi)

Website: https://www.walhi.or.id/

Instagram: @walhi.nasional


2. Gita Syahrani

Kepala Sekretariat LTKL

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)

Website: http://kabupatenlestari.org

Instagram: @kabupatenlestari


3. Tian

Hutan Itu Indonesia (HII)

Website: https://telusuri.id/pesonahutan/

Instagram: @hutanituid

18 komentar

  1. Setuju banget kak, kalau hutan harus bener-bener dijaga karena pepohonan yang rimbun juga bisa memperbaiki udara-udara yang kotor di bumi ini

    BalasHapus
  2. "Sebenarnya yang tidak baik-baik saja itu kita, bukan bumi."
    Kalimat di atas tepat sekali karena sumber kerusakan bumi terbesar memang akibat ulah manusia. *hikss
    Semoga aku termasuk orang yg selalu menjaga alam tempatku tinggal.

    BalasHapus
  3. INi program yang sangat edukatif dan mampu menyelamatkan bumi dari global warming. Ntah baca ini kok merinding, mulai dari akibat terparah dari makhluk hidup yang akan hilang karena bumi makin panas. Sedih :(

    BalasHapus
  4. Krisis Iklim saat ini sudah sangat parah. Global warming sudah tak terhindari. Cara terbaik untuk menyelamatkan bumi kita memang dengan menanam pohon. Semoga kita bisa terus menanam pohon dan mampu menyerap emisi karbon, sehingga efek gas rumah kaca bisa diminimalkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain menanam pohon juga butuh kesadaran dan tindakan dari setiap individu 😢

      Hapus
  5. Bener banget mba.
    Kadang suka kasihan sama hewan2 yang habitatnya memang di hutan, seperti monyet atau orang utan misalnya.
    Di daerahku malah mereka sekarang jadi mudah ditemukan dimana2. Padahal dulu paling susah ditemukan mereka ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran mbaa, wah kasian banget yaaa. Akibat keserakahan manusia, makhluk yang tidak memiliki akal sesempurna manusia juga kena batunya :(

      Hapus
  6. menjaga hutan memang sangat penting. terlebih untuk keberlangsungan ekosistem kita.

    BalasHapus
  7. Yang paling terasa memang kenaikan suhu rata-rata setiap tahunnya ya.. memang ga da pilihan lain nih, kita harus berpartisipasi dengan salah satu langkah misalnya asih pohon demi kelangsungan bumi kita

    BalasHapus
  8. Sepertinya menarik sekali kegiatan ECO blogger squad. Bagaimana caranya untuk bergabung ke dalam ECO blogger kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anggota Eco Blogger Squad merupakan blogger yang dipilih oleh pihak panitia mbak, semoga jika ada program sejenis, mba Sri Rahayu bisa berkesempatan terpilih yaa. Semangattt.

      Hapus
  9. Hutan adalah paru-paru dunia yang harus kita jaga dengan sebaik mungkin. Jangan sampai ditebang sembarangan..

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ini. Mohon beri kritik dan saran serta pertanyaan jika ada :D