Lomba Blog
4-Tokoh-Wanita-Inspiratif-Bersama-VIU

"Liburan nanti Dina nggak pulang ke Sanggau kan? Nanti ke rumah Anis aja yaa" Ucap Anisku (Bibiku) melalui saluran telepon dengan penuh harapan.  

Sekitar setahun yang lalu, aku pergi dari Semarang ke Bekasi untuk menghabiskan waktu liburan semester di rumah bibiku. Aku tidak pulang ke kampung halaman karena rumahku berada di Pulau Kalimantan dan waktu libur semester saat itu hanya sebulan saja. Sebenarnya, aku sudah sangat lama tidak pernah bertemu bibiku dan ketika di rumahnya, aku sedikit merasa canggung. Jadi, aku menghabiskan banyak waktu di dalam kamar sendirian. Satu-satunya teman yang menemaniku dengan setia di dalam kamar saat itu adalah VIU.

Sampahku-Adalah-Tanggung-Jawabku

Pada tanggal 21 Februari 2005, ada sebuah petaka yang telah menyadarkan Indonesia terhadap masalah sampah. Hujan turun dengan deras tanpa henti di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Lalu, terjadi ledakan yang terpicu gas metana yang berasal dari dalam timbunan sampah. Gas metana merupakan jenis gas yang rentan api. Gas ini bisa saja dihasilkan dari sampah organik yang yang dibuang di wadah tertutup karena terjadinya pembusukan anaerob. Bahkan akibat ledakan dan hujan disaat bersamaan, terjadilah bencana longsor yang menimbun tiga desa dan 157 korban meninggal dunia. Itulah alasan adanya Hari Peduli Sampah Nasional setiap tanggal 21 Februari.


Ada sebuah film yang menayangkan kehidupan masa depan manusia yang sangat miris padahal menurut aku teknologi saat itu terbilang lebih maju daripada teknologi kita sekarang. Space Sweeper, begitulah judul film yang menceritakan kondisi bumi pada tahun 2092, di mana manusia bisa bernapas jika menggunakan alat bantu karena lingkungan hancur dengan sangat parah.  Bahkan, alam semesta pun dipenuhi bangkai satelit dan pesawat ruang angkasa yang tak digunakan lagi. Beberapa manusia pergi ke luar angkasa untuk memungut sampah agar bisa dijual sehingga bisa bertahan hidup. Ada juga  sebuah perusahaan yang menciptakan rumah baru di planet Mars, namun hanya orang terpilih saja yang bisa kesana.

Bantu Jaga Lingkungan dan Masyarakat Dengan Memilih Produk Lokal Yang Tepat
“Panas sekali disini dek, banyak kabut asap karena orang bakar lahan.” Begitulah balasan pesan dari Kakakku yang sedang berada di rumah.

Aku adalah seorang mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Barat yang sedang merantau di Kota Semarang. Sudah tidak asing lagi jika aku mendengar kabar tentang kabut asap ataupun pembakaran lahan di daerah Kalimantan. Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan kabar melalui status media sosial temanku yang berada di Pontianak. Ia menayangkan sebuah video yang memperlihatkan kabut asap dengan jelas. Hanya dalam selang waktu beberapa hari kemudian, Kakakku curhat bahwa muka anaknya yang baru berumur 1 bulan menjadi merah karena kepanasan dan kabut asap. Tidak habis pikir, padahal jarak antara Kota Pontianak dan Kecamatan Kapuas adalah 194,6 km. Aku yang kurang informasi atau memang kabut asap yang datang secepat itu pikirku.